What is Bacterial vaginosis I Canesten
Kesehatan dan

Mengobati Keputihan & Infeksi Jamur pada Vagina

Infeksi jamur pada vagina dapat diobati dengan obat-obatan yang dijual di apotek atau dengan resep dokter (1)

Mengobati gatal pada kemaluan akibat jamur dapat dilakukan secara langsung. Anda bisa menggunakan obat-obatan contohnya dengan kandungan Clotrimazole (1). Pilihlah obat pil oral atau tablet khusus untuk vagina. Produk ini membantu atasi infeksi yang Anda alami, tetapi setiap orang mungkin membutuhkan pengobatan yang berbeda. Krim khusus pemakaian eksternal dapat membantu meredakan gejala infeksi jamur pada kemaluan, seperti gatal-gatal.

Rekomendasi: Segera obati infeksi jamur vagina hingga ke akarnya, baik dengan pengobatan oral maupun tablet khusus vagina, sekaligus mengoleskan krim eksternal untuk atasi gatal pada kemaluan. Jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan terapi yang tepat bagi infeksi jamur vagina.

Mencegah infeksi jamur vagina 

Pastikan area vagina benar-benar bersih dan kering setiap selesai mandi atau berenang. Hindari pemakaian produk yang mengandung parfum atau bahan kimia penyebab iritasi ketika vagina mengalami infeksi, agar tidak memperparah kondisinya. Produk-produk tersebut meliputi sabun beraroma, bubble bath, maupun shower gel.

Jangan lupa untuk menyeka vagina dari arah depan ke belakang dengan tisu toilet setelah dari WC. Hal ini dapat mencegah jamur masuk ke vagina. 

Fakta mengenai infeksi jamur

Infeksi jamur bisa terjadi pada siapapun - 75% perempuan pernah mengalami infeksi jamur vagina setidaknya sekali dalam hidupnya. Infeksi jamur vagina biasanya disebabkan Candida albicans, jamur yang secara alami terdapat pada mikroflora vagina. Gejala umum yang muncul adalah keputihan yang kental dan beraroma tidak sedap (2). Jika Anda mengalami infeksi vagina, Anda perlu mengobati kondisi ini agar gejala keputihan vagina tidak mengganggu.

Anda dapat mencegah infeksi jamur vagina yang menimbulkan gatal pada kemaluan dengan menghindari minuman manis, stres, serta menjaga pola hidup sehat, sehingga sistem imun cukup kuat melawan infeksi yang menyerang.

Referensi:

1. Sobel, J. (2007). Vulvovaginal candidosis. The Lancet, 369(9577), 1961-1971. doi: 10.1016/s0140-6736(07)60917-9.
2. Mårdh, P., Rodrigues, A., Genç, M., Novikova, N., Martinez-de-Oliveira, J., & Guaschino, S. (2002). Facts and myths on recurrent vulvovaginal candidosis—a review on epidemiology, clinical manifestations, diagnosis, pathogenesis and therapy. International Journal Of STD & AIDS, 13(8), 522-539. doi: 10.1258/095646202760159639

L.ID.MKT.CC.06.2021.1669