Ini Dia Penyebab Jamur Kulit Kambuh Meski Sudah Diobati
Penyebab & Cara Mengatasi Kadas/Kurap | Canesten

Penyebab Jamur Kulit Tetap Kambuh Meski Sudah Diobati

Jamur kulit yang membandel dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan  menghambat aktivitas sehari-hari Anda. Untungnya, infeksi jamur kulit bisa diatasi dengan mengoleskan krim antijamur, terutama yang mengandung Klotrimazol.

Namun, jika infeksi jamur kulit ternyata masih terus kambuh, bisa jadi penyebab jamur kulit datang kembali adalah beberapa hal ini: 

  1. Tidak ditangani dengan tepat
    Tahukah Anda, jika jamur biasanya menyerang lapisan kulit  atas? Itu sebabnya eksfoliasi dengan menggunakan bahan aktif seperti asam salisilat dapat dilakukan untuk mempercepat penyembuhan, karena bahan ini dapat menghilangkan lapisan kulit yang terkena jamur (1)

    Namun, eksfoliasi atau melakukan scrub pada kulit saja tidak cukup. Jamur tetap dapat dengan mudah berpindah ke lapisan kulit yang baru jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu, sangat penting bagi penderita infeksi jamur kulit untuk menggunakan krim antijamur topikal yang mengandung Klotrimazol 1% untuk membantu menghentikan pertumbuhan jamur.

    Penggunaan krim antijamur yang dilakukan secara teratur akan menjadikan kulit baru yang menggantikan kulit kering, gatal, bersisik dan terinfeksi dapat tetap terlindungi. Dengan penanganan yang tepat dan konsisten, kulit anda akan sehat kembali seperti sedia kala.
     
  2. Tidak diobati sampai tuntas
    Salah satu penyebab jamur kulit datang lagi adalah karena pengobatan yang dilakukan sebelumnya tidak diselesaikan secara tuntas. Itulah mengapa penting bagi Anda untuk selalu disiplin dalam melakukan pengobatan. Karena setiap pengobatan biasanya memiliki dosis dan durasi penggunaan yang direkomendasikan.

    Jadi, cara yang efektif untuk menyingkirkan infeksi ini adalah dengan tidak melewatkan setiap jadwal untuk mengoleskan krim antijamur. Bahkan, sebaiknya Anda tetap melanjutkan pengobatan sampai gejala benar-benar hilang (2). Hanya saja, pastikan durasinya sesuai dengan yang disarankan, karena penggunaan yang melebihi dari waktu yang disarankan dapat menyebabkan beberapa efek samping, termasuk reaksi alergi.

    Kabar baiknya, krim antijamur yang mengandung Klotrimazol 1% cenderung lebih aman untuk digunakan (3), sehingga jarang menimbulkan reaksi alergi. Namun, jika Anda mengalami efek samping seperti ruam, gatal, bengkak, pusing atau sesak napas, maka segera hentikan penggunaannya dan konsultasikan dengan dokter.
     
  3. Gaya Hidup
    Jamur ada di sekitar kita namun tidak dapat terlihat dengan kasat mata, oleh karena itu memang sulit untuk menghindarinya. Jika Anda memiliki skin barrier yang sehat, biasanya Anda tidak akan mudah terjangkit infeksi jamur kulit. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat melemahkan kulit sehingga membuatnya lebih rentan terhadap jamur. Penularan bisa terjadi melalui goresan, luka kecil, atau kulit yang dibiarkan lembab dalam waktu yang lama.

    Jika Anda memiliki gaya hidup yang aktif, Anda mungkin lebih rentan terhadap serangan jamur kulit. Hal ini disebabkan karena jamur dapat berkembang pada fasilitas umum yang digunakan bersama (4), terutama di tempat yang sering terpapar air atau lembab. Beberapa contoh yang dapat menjadi media penyebaran adalah ruang olahraga, sauna, kolam renang, matras yoga yang dipakai bergantian, atau kursi di tempat umum yang jarang dibersihkan.

    Itulah mengapa sangat penting untuk membersihkan peralatan yang dipakai bersama setelah selesai digunakan. Jika anda menggunakan fasilitas olahraga yang dikunjungi oleh banyak orang, jangan lupa untuk selalu membawa pakaian ganti yang baru. Anda juga harus mencoba menutupi bagian mana pun dari kulit Anda yang memiliki goresan atau luka terbuka, karena rentan terjangkit infeksi jamur kulit.

    Selain itu, agar Anda dapat mengatasi penyebab jamur kulit yang membandel, ada baiknya untuk mengenal terlebih dahulu jenis-jenis serta cara untuk menghilangkannya. Infeksi jamur dapat diatasi dengan mudah apabila penanganannya dilakukan sesuai dengan penyebab masing-masing infeksi.

Jenis-Jenis Infeksi Jamur Kulit dan Penyebabnya

Infeksi jamur kulit dapat mengganggu aktivitas Anda sehari-hari, dan beberapa jenis jamur kulit seperti kutu air atau kurap dapat membuat penderitanya malu apabila terlihat oleh orang lain. Seperti namanya, infeksi jamur adalah infeksi pada kulit yang disebabkan oleh beberapa macam jamur yang cepat menyebar. Namun, tidak perlu panik, serangan jamur kulit tetap bisa disingkirkan karena biasanya infeksi jenis ini mudah diobati dan hanya menyerang kulit bagian atas (5).

Lalu, apa saja jenis infeksi jamur pada kulit, bagaimana pertumbuhan jamur bisa terjadi dan cara untuk menghilangkannya? Simak terus info di bawah ini agar Anda dapat membedakan beberapa jenis infeksi jamur dan penyebab jamur kulit yang berbeda-beda.

  1. Kutu Air atau Athlete’s Foot (Tinea Pedis)

    Kutu air atau dikenal juga sebagai Athlete’s Foot. Persis dengan sebutannya, Athlete’s Foot biasanya menyerang bagian kaki. Istilah ini juga didapatkan dari fakta bahwa infeksi jamur ini mudah menyebar di sekitar ruang ganti olahraga, kolam renang, serta pemakaian handuk atau alas kaki secara bergantian dan fasilitas lain yang sering digunakan bersama oleh penggiat olahraga (6).

    Jika Anda terkena kutu air, Anda akan mengalami rasa gatal atau sensasi terbakar, kulit pecah-pecah dan bahkan mengelupas di sekitar kaki. Untuk mencegah infeksi kutu air, pastikan kaki Anda benar-benar sudah kering sebelum mengenakan kaus kaki atau sepatu. Cek kembali apakah kaus kaki serta sepatu yang Anda kenakan masih bersih dan tidak lembab. Lakukan antisipasi ini untuk menghindari penyebab jamur kulit Tinea Pedis lebih lanjut.

  2. Kurap (Tinea Corporis)

    Kurap atau Tinea Corporis disebut juga dengan Ringworm. Meskipun nama lainnya adalah Ringworm, bukan berarti penyebab jamur kulit ini ditularkan oleh cacing. Istilah ini sesungguhnya berasal dari bentuk infeksi jamur yang terlihat seperti cacing yang sedang meringkuk dan terlihat memutar seperti cincin. Ciri-ciri dari Ringworm adalah munculnya ruam merah yang kering, bengkak, gatal, dan kadang-kadang bersisik (7).

    Infeksi ini cukup menular, dan Anda dapat tertular melalui kontak erat dengan benda yang sudah terkontaminasi (contohnya seperti seprai kasur, sisir, atau sentuhan fisik dengan orang yang terinfeksi) (8). Jika dibiarkan, kurap dapat muncul di berbagai bagian tubuh Anda. Oleh karena itu, kenali ciri-ciri infeksi kurap dan segera lakukan tindakan secepatnya sebelum menyebar ke bagian tubuh lain.

  3. Infeksi Jamur pada Selangkangan (Tinea Cruris)

    Tinea Cruris atau infeksi jamur di area selangkangan dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Seperti serangan jamur pada umumnya, infeksi ini biasanya terjadi ketika cuaca lembab atau Anda menjalani aktivitas tertentu yang memproduksi banyak keringat, seperti berolahraga.

    Lantas, bagaimana infeksi jamur pada selangkangan bisa terjadi? Biasanya, ketika Anda sedang berolahraga dan menghasilkan banyak keringat, keringat ini dapat terperangkap di area selangkangan dan menjadi tempat pertumbuhan jamur. Untuk mencegah penyebab jamur kulit ini, pastikan untuk menjaga area selangkangan tetap bersih dan kering. Jangan lupa agar selalu menggunakan pakaian bersih dan ganti pakaian dalam setiap hari. Lebih baik lagi jika Anda dapat menghindari baju atau pakaian dalam yang terlalu ketat untuk meminimalkan penyebaran jamur di area selangkangan (6)

    Meskipun begitu, Anda tidak perlu khawatir karena infeksi jamur pada kulit tersebut sebenarnya mudah diatasi. Untuk semua jenis infeksi di atas, pertimbangkan untuk menggunakan krim antijamur yang mengandung Klotrimazol 1% sebagai pilihan pengobatan yang efektif. Cukup oleskan krim Klotrimazol 1% ke area yang terjangkit sebanyak 2 (dua) kali sehari selama 3- 4 minggu atau hingga gejala sudah hilang sepenuhnya. Krim antijamur ini mampu meresap ke dalam lapisan kulit dan membantu menuntaskan jamur sampai ke akarnya.

    Apabila tidak ada perbaikan setelah tujuh hari pemakaian, jangan ragu untuk menghubungi dokter. Pastikan kali ini Anda sudah mengetahui penyebab infeksi jamur kulit dan mengatasinya dengan tepat sampai tuntas.

    Jika saat ini anda sedang hamil atau berusia lanjut, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapatkan rekomendasi obat antijamur yang cocok bagi ibu hamil dan kelompok lanjut usia.

Referensi:

  1. R Todd Plott. The most common fungal infections, explained. Epiphanydermatology.com. Diakses pada 8 September 2021 dari https://www.epiphanydermatology.com/medical-dermatology/most-common-fungal-infections/
  2. American Osteopathic College of Dermatology. Fungus Infections: Preventing Recurrence. aocd.org. Diakses pada 9 September 2021 dari https://www.aocd.org/page/FungusInfectionsP 
  3. Webmd Team. Clotrimazole Solution. WebMD.com. Diakses pada 8 September 2021 dari https://www.webmd.com/drugs/2/drug-4316/clotrimazole-topical/details
  4. Gabrielle Kassel. 5 Common Fungal Skin Infections You Can Pick Up at the Gym. Shape.com. Diakses pada 8 September 2021 dari https://www.shape.com/lifestyle/mind-and-body/fungal-skin-infections-gym
  5. Debra Jaliman. Fungus Among Us. WebMD.com. Diakses pada 8 September 2021 dari https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/ss/slideshow-fungus-infection
  6. Charles Patrick Davis. Fungal Skin Infections: Types, Symptoms, and Treatment. MedicineNet.com. Diakses pada 8 September 2021 dari https://www.medicinenet.com/fungal_infections_pictures_slideshow/article.htm
  7. NHS Team. Ringworm. NHS.UK. Diakses pada 8 September 2021 dari  https://www.nhs.uk/conditions/ringworm/
  8. Marjorie Hecht. How Long is Ringworm Contagious? Healthline.com. Diakses pada 8 September 2021 dari https://www.healthline.com/health/how-long-is-ringworm-contagious